WELCOME TO GO_GO_BLOG !!!!! berbagi cerita, dan pengetahuan :D

Twitter

My Blog List

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

About Me

Foto Saya
seorang mahasiswi dari Universitas Mulawarman SAmarinda jurusan administrasi negara, prodi ilmu komunikasi angkata 2009. anak ke 2 dari 3 bersaudara yang mempunyai cita-cita paling tinggi. sifat dan karakter relatif tergantung dengan lingkungan(bukan berarti berkepribadian ganda)

Minggu, 28 November 2010

hambatan dalam komunikasi massa

HAMBATAN
1. Hambatan diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami (Badudu-Zain, 1994:489).
2. Dalam konteks komunikasi dikenal pula gangguan (mekanik maupun semantik). Gangguan ini masih termasuk ke dalam hambatan komunikasi (Effendy, 1993:45).
3. Efektivitas komunikasi salah satunya akan sangat tergantung kepada seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi.

HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI MASSA
 HAMBATAN PSIKOLOGIS
1) KEPENTINGAN (INTEREST)
1. Kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati pesan.
2. Sebagaimana telah diketahui bahwa komunikan dalam komunikasi massa sangat heterogen (usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dll). Hal ini memungkinkan setiap individu komunikan memiliki kepentingan yang berbeda
3. Atas dasar kepentingan yang berbeda, maka setiap individu komunikan akan melakukan seleksi terhadap pesan yang diinginkannya (manfaat/kegunaan).
PRASANGKA (PREJUDICE)
1. Prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau sekelompok orang lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka.
2. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan
3. Persepsi ditentukan oleh faktor personal (fungsional): kebutuhan, pengalaman masa lalu, peran dan status.
4. Persepsi ditentukan oleh faktor situasional (struktural): Jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat menilai fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan
5. Apabila suatu proses komunikasi sudah diawali oleh kecurigaan (prasangka) maka tidak akan efektif.
STEREOTIF (STEREOTYPE)
1. Prasangka sosial bergandengan dengan stereotif yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif.
2. Stereotif misalnya tercermiun pada: orang Batak itu berwatak keras, orang Sunda manja, dll.
3. Apabila dalam proses komunikasi massa ada komunikan yang memiliki stereotif tertentu pada komunikatornya, maka dapat dipastikan pesan apapun tidak akan bisa diterima oleh komunikan.
MOTIVASI (MOTIVATION)
1. Motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu.
2. Motif setiap orang akan berbeda-beda ketika mendengar, melihat atau membaca informasi pada media massa.
3. Tanggapan setiap orang pun akan berbeda-beda pula sesuai dengan motivasinya.

HAMBATAN SOSIOKULTURAL
ANEKA ETNIK
1. Untuk kasus Indonesia, terdapat ribuan pula dari Sabang sampai Merauke.
2. Satu sisi kenyataan tersebut menjadi kekayaan yang tak terhingga nilainya. Namun di sisi lain realitas tersebut menjadi salah satu faktor penghambat dalam kegiatan komunikasi massa.
PERBEDAAN NORMA SOSIAL
1. Perbedaan budaya sekaligus juga menimbulkan perbedaan norma sosial yang berlaku di masyarakat.
2. Pada konteks seperti itu, komunikator komunikasi massa harus bersikap hati-hati, terutama dalam menyusun pesan. Dalam arti apakah pesan yang akan disampaikan tidak akan melanggar norma sosial tertentu.
3. Komunikator perlu membekali dirinya dengan beragam pengetahuan mengenai norma sosial yang berlaku di masyarakat luas.
KURANG MAMPU BERBAHASA INDONESIA
1. Keragaman etnik menyebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari.
2. Pada gilirannya dapat menyulitkan penyebarluasan kebijakan program-program pemerintah yang dikomunikasikan melalui media massa.



FAKTOR SEMANTIK
1. Semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna kata yang sebenarnya. Hambatan semantik adalah hambatan mengani bahasa.
2. Hambatan semantik dapat diakibatkan oleh tiga hal: komunikator terlalu cepat dalam berbicara, adanya perbedaan makna kata, dan adanya pengertian yang konotatif.
FAKTOR PENDIDIKAN
1. Khalayak dalam komunikasi massa bersifat heterogen, salah satunya pada aspek pendidikan.
2. Masalah akan timbul manakala komuniian yang berpendidikan rendah tidak dapat mencerna pesan komunikasi massa secara benar karena keterbatasan daya nalar dan daya tangkapnya.
FAKTOR MEKANIS
1. Faktor mekanis merujuk kepada berbagai hambatan pada komunikasi massa yang disebabkan oleh terganggunya peralatan.
2. Pada TV misalnya, antena kurang dapat menangkap sinyal gelombang elektromagnetik, warna tidak jelas, layar banyak “semutnya”, dll.
3. Pada radio, misalnya suara yangtidak jelas (putus-putus, dll).
4. Pada surat kabar dan majalah, misalnya huruf tidak jelas, salah pemotongan kata, sambungan berita yang tidak akurat, dll.

HAMBATAN INTERAKSI VERBAL
POLARISASI
1. Polarization adalah kecenderungan untuk melihat dunia dalam bentuk lawan kata dan menguraikannya dalam bentuk ekstrem, seperti baik atau buruk, positif atau negatif, sehat atau sakit, pandai atau bodoh, dll.
2. Kita mempunyai kecendeungan kuat untuk melihat titik-tritik ekstrem dan mengelompokkan manusia, objek, dan kejadian dalam bentuk lawan kata yang ekstrem. Sementara banyak juga orang-orang berada pada titik tengah-tengah dari keekstriman tersebut.
3. Seandainya komunikator maupun komunikan melihat seperti itu maka sudah dapat dipastikan di antara keduanya selalu akan terjadi sikap apriori. Padahal pada konteks tersebut dibutuhkan komunikator dan komunikan harus bersikap netral.


ORIENTASI INTENSIONAL
1. Intensional orientation mengacu kepada kecenderungan kita untuk melihat manusia, objek dan kejadian sesuai dengan ciri yang melekat pada mereka.
2. Intensional orientation terjadi bila kita bertindak seakan-akan label adalah lebih penting daripada orangnya sendiri.
3. Dalam proses komunikasi massa, orientasi intensional biasanya dilakukan oleh komunikan terhadap komunikator, bukan sebaliknya.
4. Misalnya, seorang presenter yang berbicara di layar tv, dan kebetulan wajah presenter tersebut kurang menarik, maka biasanya komunikan akan intensional menilainya sebagai tidak menarik sebelum mendengar apa yang dikatakannya.
5. Cara mengatasinya yaitu dengan cara ekstensionalisasi, yaitu dengan memberikan perhatian utama kita pada manusia, benda atau kejadian-kejadian di dunia ini sesuai dengan apa yang kita lihat.
EVALUASI STATIS
1. Pada suatu ketika kita melihat seorang komunikator X berbicara melalui pesawat tv. Menurut persepsi kita, cara berkomunikasi dan materinya tidak baik, sehingga kita membat abstraksi tentang komunikator tersebut tidak baik.
2. Evaluasi kita tentang komunikator tersebut bersifat statis (tidak berubah). Akibatnya, mungkin selamanya kita tidak akan mau menonton atau mendengar komunikator tersebut. Padahal sangat mungkin gaya komunikator tersebut berubah menjadi lebih baik dan menarik.
INDISKRIMINASI
1. Indiscrimination terjadi bila komunikan memusatkan perhatian kepada kelompok orang, benda atau kejadian dan tidak mampu melihat bahwa masing-masing bersifat unik atau khas dan perlu diamati secara individual.
2. Indiscrimination merupakan bagian dari stereotif (sikap generalisasi).
3. Dalam indiskriminasi, jika komunikan dihadapkan dengan seorang komunikator, reaksi pertama komunikan itu adalah memasukan komunikator ke dalam kategori tertentu, mungkin menurut suku, agama, dll. Misalnya orang Batak cenderung berwatak keras.
4. Cara untuk menghilangkan indiskriminasi yaitu dengan cara memandang seseorang secara individual.
Read more...
separador

pelangi di dunia jurnalistik dan media massa

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Apakah anda pernah melihat pelangi? Ada berapa warna? Warna apa sajakah yang Anda sukai? Warna apa yang paling Anda gandrungi? Mengapa? Bagaimana dengan orang lain? Warna apa yang mereka sukai? Kenapa Anda tidak mengikuti pendapat mereka untuk menyukai sebuah warna yang ada di pelangi? Atau jangan-jangan anda tidak menyukai sama sekali warna-warna yang tergores di pelangi? Jawaban dari serangan pertanyaan ini terserah Anda, tidak ada yang memaksa. Pasti setiap orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Dan jawaban masing-masing orang bisa sama, bisa sama sebagian ataupun berbeda sama sekali. Dengan begitu jelaslah bahwa subyektivitas merupakan anugerah Tuhan yang benar-benar indah.
Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan media massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.
Dalam kajian jurnalistik dan media massa, konsep pelangi di atas juga bisa digunakan untuk melihat kenyataan praktek di kehidupan kita. Lebih gamblangnya dapat dikatakan bahwa dalam dunia jurnalistik dan media massa ada ketidakseragaman, ada ketidaktunggalan, dan tentunya ada keberagaman. Keduanya sangat dan bahkan saling berpengaruh. Tanpa media massa, sebuah jurnalistik tidak akan terumbar ke khalayak, begitupula dengan jurnalistik, tanpa jurnalistik, media massa akan hambar tanpa pemberitaan.

1.2. Tujuan Penulisan
Makalah ini memiliki beberapa tujuan dan sasaran. Sasaran dari penyusunan makalah ini adalah praktisi pendidikan . Sedangkan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah berusaha mengupas dan membuka wawasan mengenai peranan jurnalistik yang erat kaitannya dengan media massa.

1.3. Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada setiap pembaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam dunia jurnalistik dan dunia media massa, serta dapat mengetahui peraanan dan fungsi keduanya yang saling berhubungan dalm kehidupan kita sehari-hari. 
BAB II
PELANGI DI DUNIA JURNALISTIK DAN MEDIA MASSA

2.1 Pelangi Pertama, Dunia Jurnalistik
Ilmu jurnalistik adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan.
Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya. Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.
1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).
2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.
3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.



2.1.1 Jenis-jenis Jurnalistik
Jenis-jenis jurnalistik, merujuk pada Dedy Djamaluddin Malik:
o Jazz Journalism. Jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan pada hal-hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gosip dan rumor.
o Adversary Journalism. Jurnalistik yang membawakan misi penentangan atau permusuhan, yakni beritanya menentang terus pemerintah atau penguasa (oposisi).
o Government-say-so-Journalism. Jurnalistik yang memberitakan atau meliput apa saja yang disiarkan pemerintah layaknya koran pemerintah.
o Checkbook Journalism. Jurnalistik yang untuk memperoleh bahan beritanya harus memberi uang pada sumber berita.
o Alcohol Journalism. Jurnalistik liberal yang tidak menghargai urusan pribadi seseorang atau lembaga.
o Crusade Journalism. Jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, misalnya demokrasi, nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebenaran. Atau menurut Septiawan Santana K. jenis ini bisa juga disebut sebagai ”jurnalisme jihad.”
Menurut Dja’far H. Assegaf, jenis-jenis jurnalistik terbagi ke dalam:
o Elektronic Journalism (jurnalistik elektronik), yakni pengetahuan tentang berita-berita yang disiarkan melalui media massa modern seperti film, TV, radio kaset, dsb.
o Junket Journalism (jurnalistik foya-foya), yaitu praktik jurnalistik yang tercela, yakni wartawan yang mengadakan perjalanan jurnalistik atas biaya dan perjalanan yang berlebihan yang diongkosi oleh si pengundang.
o Gutter Journalism (jurnalistik got). Yaitu teknik jurnalistik yang lebih menonjolkan pemberitaan tentang seks dan kejahatan.
o Gossip Journalism (jurnalistik kasak-kusuk). Yaitu jurnalistik yang lebih menekankan pada berita-berita kasak-kusuk dan isu yang kebenarannya masih sangat diragukan (”koran gosip”).
o Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya. Untuk yang terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa (media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.
Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997. Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.

2.1.2 Produk Utama Jurnalistik: Berita
Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature. Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.
Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi” enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)
2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.
3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead

2.2 Pelangi Kedua, Dunia Media Massa
Media massa atau sering disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial (dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati lingkungan dan social kemasyarakayan, atau sebagai alat promosi bagi perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai peerbangan yang ditaruh dimasing-masing kursi pesawat.
Media massa adalah channel, media/medium, saluran, sarana atau alat yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, yakni komunikasi yang diarahkan kepada orang banyak (channel of mass communication). Sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami bahwa media massa elektronik merupakan media massa yang muncul belakangan setalah media massa cetak, karena pengaruh dari modernitas dan perkembangan teknologi.
Yang termaksud media massa terutama adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia dan media online).

2.2.1. Empat Dasar Manajemen Media Massa
Pertama, yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang akan mengelola penerbitan media massa adalah menentukan visi dan misi serta menentukan jenis jurnalistik yang dipilih (pilihan lihat pada ”pelangi pertama”). Kedua, melakukan positioning, yaitu penentuan pangsa pasar atau sasaran pembaca (konsumen). Positioning atau penentuan target pasar ini akan menuntun bagian redaksi dalam memilih dan menyajikan berita. Langkah ini kemudian diikuti dengan menciptakan atau membina ”pembaca perintis”. Adapun tahap-tahap yang dapaat dilakukan sebuah media untuk eksis dan menjadi besar anatar lain:
1. Menumbuhkan fanatisme pembaca.
2. Menciptakan kesetiaan pembaca.
3. Menjadikan media tersebut sebagai labang status atau ”gengsi,” dimana pembaca merasa bangga membeli dan membaca media tersebut.
Tahapan-tahapan ini biasanya dilakukan dengan dukungan, sebuah survei pembaca, untuk mengetahui keinginan dan aspirasi mereka.
Ketiga, memperhatikan betul empat P (4P):
1. Product, kualitas media, meliputi rubrikasi, isi berita, layout/setting, artistik, perwajahan (cover), dan sebagainya sehingga menarik dan dibeli/dibaca orang.
2. Promotion, yaitu upaya media tersebut menarik minat orang untuk membeli dan membaca (berlangganan).
3. Please, yaitu kualitas pelayanan media tersebut, dalam hal ini bagian sirkulasi, untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan orang untuk mendapatkan media yang bersangkutan. Juga bisa berarti kualitas pelayanan redakasi atau bagian lain terhadap pembaca.
4. Price, yaitu harga media tersebut, apakah terjangkau oleh pembeli, sesuai dengan kualitas produk dan pelayanan, dan sebagainya.
Keempat, eksistensi media juga bergantung pada kondisi internal media itu sendiri. Media yang baik dan prospektif untuk maju dan besar, antara lain memperhatikan penuh tiga kunci sukses sebuah media (3S):
1. Sehat SDM, yakni tenaga-tenaga pengelola media tersebut berkualitas dan profesional di bidangnya, yang ditunjang dengan gaji yang memadai bagi mereka.
2. Sehat Manajemen, yakni manajemen media tersebut dilakukan dengan baik, terencana, terarah dan terkendali.
3. Sehat Sarana, yakni terpenuhinya sarana atau segala fasilitas yang diperukan bagi kelancaran kerja media tersebut.

2.2.2. Karakteristik Media Massa
1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada public, khalayak, atau orang banyak.
2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa diberbaga tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak ( masyarakat umum).
3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan periode mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dsb. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada public.

2.2.3. Peran Media Massa
Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumblah peran yang dimainkan media massa selama ini, yakni:
1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industry lain utamanya dalam periklanan/promosi.
2. Sumber kekuatan-alat control, manajemen, dan inovasi masyarakat.
3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
4. Wahana pengembangan kebudayaan-tatacara, mode, gaya hidup, dan norma.
5. Sumber dominan pencipta cara individu, kelompok, dan masyarakat.


BAB III
HUBUNGAN ANTARA JURNALISTIK DENGAN MEDIA MASSA
Ilmu jurnalistik adalah salah satu ilmu terapan (applied science) dari ilmu komunikasi, yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita menjadi karya jurnalistik, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Ilmu jurnalistik juga adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui media massa cetak.
Proses jurnalistik adalah setiap kegiatan mencari mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan/atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.
Untuk itulah segala bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa cetak, merupakan karya jurnalistik. Sedangkan media massa periodik dipersyaratkan agar memiliki syarat untuk dianggap layak sebagai media massa periodik. Syarat-syarat tesebut adalah publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas.
Media massa mempunyai peranan penting dalam penyebaran informasi/berita kepada masyarakat juga kepada pemerintah (pejabat-pejabat pemerintah), dan dalam pembentukan pendapat umum. Informasi yang disampaikan di media massa memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga apa yang diungjkapkan suatu kebenaran yang ada di masyarakat.



BAB IV
PENUTUP
Jurnalis dapat melakukan penyebaran informasi melalui berbagai cara, oleh karena itu perlunya terbina hubungan baik antara jurnalis dengan orang-orang media massa. Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa jadi jelaslah bahwa keduanya saling berhubungan.
. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia melalui media massa. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak. Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan/atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Untuk itulah segala bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa cetak, merupakan karya jurnalistik. Sedangkan media massa periodik dipersyaratkan agar memiliki syarat untuk dianggap layak sebagai media massa periodik. Syarat-syarat tesebut adalah publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas. Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/dunia-jurnalistik-dan-media-massa.html

Karyanti, Soendar Rema. 2007. Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Hj. Normalina, Dra, Msi.2010. Pengembangan Profesi.
















Read more...
separador

pelangi di dunia jurnalistik dan media massa

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Apakah anda pernah melihat pelangi? Ada berapa warna? Warna apa sajakah yang Anda sukai? Warna apa yang paling Anda gandrungi? Mengapa? Bagaimana dengan orang lain? Warna apa yang mereka sukai? Kenapa Anda tidak mengikuti pendapat mereka untuk menyukai sebuah warna yang ada di pelangi? Atau jangan-jangan anda tidak menyukai sama sekali warna-warna yang tergores di pelangi? Jawaban dari serangan pertanyaan ini terserah Anda, tidak ada yang memaksa. Pasti setiap orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Dan jawaban masing-masing orang bisa sama, bisa sama sebagian ataupun berbeda sama sekali. Dengan begitu jelaslah bahwa subyektivitas merupakan anugerah Tuhan yang benar-benar indah.
Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan media massa. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak.
Dalam kajian jurnalistik dan media massa, konsep pelangi di atas juga bisa digunakan untuk melihat kenyataan praktek di kehidupan kita. Lebih gamblangnya dapat dikatakan bahwa dalam dunia jurnalistik dan media massa ada ketidakseragaman, ada ketidaktunggalan, dan tentunya ada keberagaman. Keduanya sangat dan bahkan saling berpengaruh. Tanpa media massa, sebuah jurnalistik tidak akan terumbar ke khalayak, begitupula dengan jurnalistik, tanpa jurnalistik, media massa akan hambar tanpa pemberitaan.

1.2. Tujuan Penulisan
Makalah ini memiliki beberapa tujuan dan sasaran. Sasaran dari penyusunan makalah ini adalah praktisi pendidikan . Sedangkan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah berusaha mengupas dan membuka wawasan mengenai peranan jurnalistik yang erat kaitannya dengan media massa.

1.3. Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada setiap pembaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam dunia jurnalistik dan dunia media massa, serta dapat mengetahui peraanan dan fungsi keduanya yang saling berhubungan dalm kehidupan kita sehari-hari. 
BAB II
PELANGI DI DUNIA JURNALISTIK DAN MEDIA MASSA

2.1 Pelangi Pertama, Dunia Jurnalistik
Ilmu jurnalistik adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan.
Jurnalistik adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaopran setiap hari. Jadi jurnalistik bukan pers, bukan media massa. Menurut kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis surat kabar, majalah, atau berkala lainnya. Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.
1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).
2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.
3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.



2.1.1 Jenis-jenis Jurnalistik
Jenis-jenis jurnalistik, merujuk pada Dedy Djamaluddin Malik:
o Jazz Journalism. Jurnalistik yang mengacu pada pemberitaan pada hal-hal yang sensasional, menggemparkan atau menggegerkan, seperti meramu gosip dan rumor.
o Adversary Journalism. Jurnalistik yang membawakan misi penentangan atau permusuhan, yakni beritanya menentang terus pemerintah atau penguasa (oposisi).
o Government-say-so-Journalism. Jurnalistik yang memberitakan atau meliput apa saja yang disiarkan pemerintah layaknya koran pemerintah.
o Checkbook Journalism. Jurnalistik yang untuk memperoleh bahan beritanya harus memberi uang pada sumber berita.
o Alcohol Journalism. Jurnalistik liberal yang tidak menghargai urusan pribadi seseorang atau lembaga.
o Crusade Journalism. Jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, misalnya demokrasi, nilai-nilai Islam atau nilai-nilai kebenaran. Atau menurut Septiawan Santana K. jenis ini bisa juga disebut sebagai ”jurnalisme jihad.”
Menurut Dja’far H. Assegaf, jenis-jenis jurnalistik terbagi ke dalam:
o Elektronic Journalism (jurnalistik elektronik), yakni pengetahuan tentang berita-berita yang disiarkan melalui media massa modern seperti film, TV, radio kaset, dsb.
o Junket Journalism (jurnalistik foya-foya), yaitu praktik jurnalistik yang tercela, yakni wartawan yang mengadakan perjalanan jurnalistik atas biaya dan perjalanan yang berlebihan yang diongkosi oleh si pengundang.
o Gutter Journalism (jurnalistik got). Yaitu teknik jurnalistik yang lebih menonjolkan pemberitaan tentang seks dan kejahatan.
o Gossip Journalism (jurnalistik kasak-kusuk). Yaitu jurnalistik yang lebih menekankan pada berita-berita kasak-kusuk dan isu yang kebenarannya masih sangat diragukan (”koran gosip”).
o Development Journalism (jurnalistik pembangunan). Atau dalam istilah kita ”pers pembangunan,” yaitu jurnalistik yang mengutamakan peranan pers dalam rangka pembangunan nasional negara dan bangsanya. Untuk yang terakhir ini dalam sejarah jurnalistik Indonesia, dilabelkan kepada siapa (media massa) saja yang lebih memihak kepada penguasa Orde Baru.
Sebenarnya ada satu lagi yang belum tercover, yaitu Investigative Journalism, di Indonesia salah satu tokoh yang mempelopori jenis jurnalisme ini adalah Mas Bondan Winarno, yang sekarang masyhur lewat acara ”wisata kuliner” di sebuah stasiun TV suasta Indonesia, yang terkenal dengan kata-katanya: ”mak nyus, pemirsa..”. Mas Bondan ikut berkontribusi dalam memopulerkan model jurnalisme investigasi ini lewat media massa Suara Pembaruan dan secara mengagumkan dapat kita lihat pada kedua karya investigasinya, Neraka di Laut Jawa yang terbit pada tahun 1980-an dan Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang terbit pada Juli 1997. Jurnalistik menjadikan investigasi sebagai rohnya. Akan tetapi bagi beberapa kalangan jurnalisme investigasi bisa dimasukkan ke dalam Adversary Journalism dan Crusade Journalism.

2.1.2 Produk Utama Jurnalistik: Berita
Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature. Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.
Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi” enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)
2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.
3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead

2.2 Pelangi Kedua, Dunia Media Massa
Media massa atau sering disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial (dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati lingkungan dan social kemasyarakayan, atau sebagai alat promosi bagi perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai peerbangan yang ditaruh dimasing-masing kursi pesawat.
Media massa adalah channel, media/medium, saluran, sarana atau alat yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, yakni komunikasi yang diarahkan kepada orang banyak (channel of mass communication). Sebenarnya hal ini lebih bisa dipahami bahwa media massa elektronik merupakan media massa yang muncul belakangan setalah media massa cetak, karena pengaruh dari modernitas dan perkembangan teknologi.
Yang termaksud media massa terutama adalah surat kabar, majalah, radio, televisi, dan film sebagai The Big Of Mass Media (Lima Besar Media Massa), juga internet (cybermedia dan media online).

2.2.1. Empat Dasar Manajemen Media Massa
Pertama, yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang akan mengelola penerbitan media massa adalah menentukan visi dan misi serta menentukan jenis jurnalistik yang dipilih (pilihan lihat pada ”pelangi pertama”). Kedua, melakukan positioning, yaitu penentuan pangsa pasar atau sasaran pembaca (konsumen). Positioning atau penentuan target pasar ini akan menuntun bagian redaksi dalam memilih dan menyajikan berita. Langkah ini kemudian diikuti dengan menciptakan atau membina ”pembaca perintis”. Adapun tahap-tahap yang dapaat dilakukan sebuah media untuk eksis dan menjadi besar anatar lain:
1. Menumbuhkan fanatisme pembaca.
2. Menciptakan kesetiaan pembaca.
3. Menjadikan media tersebut sebagai labang status atau ”gengsi,” dimana pembaca merasa bangga membeli dan membaca media tersebut.
Tahapan-tahapan ini biasanya dilakukan dengan dukungan, sebuah survei pembaca, untuk mengetahui keinginan dan aspirasi mereka.
Ketiga, memperhatikan betul empat P (4P):
1. Product, kualitas media, meliputi rubrikasi, isi berita, layout/setting, artistik, perwajahan (cover), dan sebagainya sehingga menarik dan dibeli/dibaca orang.
2. Promotion, yaitu upaya media tersebut menarik minat orang untuk membeli dan membaca (berlangganan).
3. Please, yaitu kualitas pelayanan media tersebut, dalam hal ini bagian sirkulasi, untuk menyenangkan (to please) dan memudahkan orang untuk mendapatkan media yang bersangkutan. Juga bisa berarti kualitas pelayanan redakasi atau bagian lain terhadap pembaca.
4. Price, yaitu harga media tersebut, apakah terjangkau oleh pembeli, sesuai dengan kualitas produk dan pelayanan, dan sebagainya.
Keempat, eksistensi media juga bergantung pada kondisi internal media itu sendiri. Media yang baik dan prospektif untuk maju dan besar, antara lain memperhatikan penuh tiga kunci sukses sebuah media (3S):
1. Sehat SDM, yakni tenaga-tenaga pengelola media tersebut berkualitas dan profesional di bidangnya, yang ditunjang dengan gaji yang memadai bagi mereka.
2. Sehat Manajemen, yakni manajemen media tersebut dilakukan dengan baik, terencana, terarah dan terkendali.
3. Sehat Sarana, yakni terpenuhinya sarana atau segala fasilitas yang diperukan bagi kelancaran kerja media tersebut.

2.2.2. Karakteristik Media Massa
1. Publisitas, yakni disebarluaskan kepada public, khalayak, atau orang banyak.
2. Universalitas, pesannya bersifat umum, tentang segala aspek kehidupan dan semua peristiwa diberbaga tempat, juga menyangkut kepentingan umum karena sasaran dan pendengarnya orang banyak ( masyarakat umum).
3. Periodisitas, tetap atau berkala, misalnya harian atau mingguan, atau siaran sekian jam per hari.
4. Kontinuitas, berkesinambungan atau terus-menerus sesuai dengan periode mengudara atau jadwal terbit.
5. Aktualitas, berisi hal-hal baru, seperti informasi atau laporan peristiwa terbaru, tips baru, dsb. Aktualitas juga berarti kecepatan penyampaian informasi kepada public.

2.2.3. Peran Media Massa
Denis McQuail (1987) mengemukakan sejumblah peran yang dimainkan media massa selama ini, yakni:
1. Industri pencipta lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industry lain utamanya dalam periklanan/promosi.
2. Sumber kekuatan-alat control, manajemen, dan inovasi masyarakat.
3. Lokasi (forum) untuk menampilkan peristiwa masyarakat.
4. Wahana pengembangan kebudayaan-tatacara, mode, gaya hidup, dan norma.
5. Sumber dominan pencipta cara individu, kelompok, dan masyarakat.


BAB III
HUBUNGAN ANTARA JURNALISTIK DENGAN MEDIA MASSA
Ilmu jurnalistik adalah salah satu ilmu terapan (applied science) dari ilmu komunikasi, yang mempelajari keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita menjadi karya jurnalistik, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Ilmu jurnalistik juga adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui media massa cetak.
Proses jurnalistik adalah setiap kegiatan mencari mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yang mengandung nilai berita, serta menyajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan/atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik.
Untuk itulah segala bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa cetak, merupakan karya jurnalistik. Sedangkan media massa periodik dipersyaratkan agar memiliki syarat untuk dianggap layak sebagai media massa periodik. Syarat-syarat tesebut adalah publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas.
Media massa mempunyai peranan penting dalam penyebaran informasi/berita kepada masyarakat juga kepada pemerintah (pejabat-pejabat pemerintah), dan dalam pembentukan pendapat umum. Informasi yang disampaikan di media massa memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga apa yang diungjkapkan suatu kebenaran yang ada di masyarakat.



BAB IV
PENUTUP
Jurnalis dapat melakukan penyebaran informasi melalui berbagai cara, oleh karena itu perlunya terbina hubungan baik antara jurnalis dengan orang-orang media massa. Istilah jurnalistik erat kaitannya dengan istilah pers dan komunikasi massa jadi jelaslah bahwa keduanya saling berhubungan.
. Jurnalistik adalah seperangkat atau suatu alat madia massa. Pengertian jurnalistik dari berbagai literature dapat dikaji definisi jurnalistik yang jumlahnya begitu banyak. Namun jurnalistik mempunyai fungsi sebagai pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebarannya kepada masyarakat mengenai apa saja yang terjadi di dunia melalui media massa. Apapun yang terjadi baik peristiwa factual (fact) atau pendapat seseorang (opini), untuk menjadi sebuah berita kepada khalayak. Karya jurnalistik adalah uraian fakta dan/atau pendapat yang mengandung nilai berita, dan penjelasan masalah hangat yang sudah disajikan kepada khalayak melalui media massa periodik, baik cetak maupun elektronik. Untuk itulah segala bentuk tulis-menulis yang dimuat di media massa cetak, merupakan karya jurnalistik. Sedangkan media massa periodik dipersyaratkan agar memiliki syarat untuk dianggap layak sebagai media massa periodik. Syarat-syarat tesebut adalah publisitas, universalitas, periodisitas, kontinuitas, dan aktualitas. Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan.

DAFTAR PUSTAKA

http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/dunia-jurnalistik-dan-media-massa.html

Karyanti, Soendar Rema. 2007. Komunikasi Massa. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Hj. Normalina, Dra, Msi.2010. Pengembangan Profesi.
Read more...
separador

anda pengunjung ke :D

Lencana Facebook

Followers