WELCOME TO GO_GO_BLOG !!!!! berbagi cerita, dan pengetahuan :D

Twitter

My Blog List

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

About Me

Foto Saya
seorang mahasiswi dari Universitas Mulawarman SAmarinda jurusan administrasi negara, prodi ilmu komunikasi angkata 2009. anak ke 2 dari 3 bersaudara yang mempunyai cita-cita paling tinggi. sifat dan karakter relatif tergantung dengan lingkungan(bukan berarti berkepribadian ganda)

Sabtu, 24 Maret 2012

opini publik dan bentuk komunikasi


sumber : http://muslimpoliticians.blogspot.com/2012/03/opini-publik-dan-bentuk-komunikasi.html


Opini publik dan bentuk komunikasi yang digunakan sesungguhnya bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi masyarakat sebagai komunikan (khalayak/audience). Adakalanya komunikasi massa dengan media massa sebagai salurannya, dianggap lebih berpengaruh karena kemampuannya menjangkau khalayak yang relatif sangat luas, serempak, dan kelebihan-kelebihan lain yang dimilikinya. Sedangkan pada konteks masyarakat tertentu dimana daya jangkaunya terhadap media massa masih terbatas dan kepercayaannya terhadap pemimpin masyarakat masih sangat tinggi, maka komunikasi yang sifatnya individual atau komunikasi interpersonal lebih efektif dalam mempengaruhi opini publik. Pada kondisi yang lain, komunikasi kelompok dengan komunikan yang jumlahnya agak banyak namun bisa dijangkau keseluruhan oleh komunikator dan diharapkan intensitasnya tinggi, maka komunikasi kelompok menjadi lebih efektif.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lazarsfeld terhadap perilaku memilih masyarakat Amerika dalam pemilihan presiden tahun 1940 menunjukkan bahwa tidak secara langsung pemilih terpengaruh oleh media massa dalam menentukan pilihannya, tapi justru setelah mendapat “pengaruh” dari pemimpin opini. Pemimpin opini adalah orang-orang yang penting pengaruhnya dalam membentuk opini publik. Menurut Roger dan Shoemaker pemimpin opini adalah pribadi-pribadi tertentu yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain dalam perilaku opini (opinion behavior) melalui cara yang disukai oleh orang-orang yang dipengaruhi tersebut. Sedangkan pengaruh itu bisa berbentuk informasi, pertimbangan, maupun interpretasi mengenai suatu masalah.
Beberapa ahli memberikan pendapatnya tentang karakteristik pemimpin opini (opinion leaders):
Lazarsfeld : Pemimpin opini memiliki karakteristik: mempunyai posisi yang memiliki kewenangan, mempunyai hubungan dengan sumber-sumber informasi dari luar, mampu menjangkau masyarakat yang menjadi pengikutnya dan berkemauan untuk hidup di tengah orang banyak.
Rogers dan Shoemaker : Pemimpin opini adalah seseorang yang mampu berkomunikasi dengan dunia luar, mampu menjangkau masyarakat yang menjadi pengikutnya, pada umumnya pemimpin opini menempati kedudukan sosial yang lebih tinggi daripada pengikutnya dan dihargai serta diikuti pendapatnya oleh para pengikutnya, biasanya seorang pemimpin opini lebih dulu dari pengikutnya dalam hal menerima gagasan atau hal-hal baru.
Katz : Pemimpin opini terdapat dalam setiap masyarakat, pemimpin opini memiliki banyak kesamaan dengan para pengikutnya, terutama karena tergabung dalam sebuah primary group, sewaktu-waktu pemimpin opini dengan pengikutnya dapat saja bertukar peran.
Menurut Katz, komunikasi interpersonal lebih kuat mempengaruhi opini seseorang daripada komunikasi massa, faktor yang menyebabkan adalah sifat-sifat dari komunikasi massa itu sendiri :
Sifat saluran komunikasi massa yang lebih sulit untuk mendapatkan umpan balik (feed back).
Dalam komunikasi massa tidak terjadi kontak secara langsung antara komunikator (sumber) dengan komunikan (penerima).
Kurang saling mengamati antara sumber dengan penerima, karena tidak mengawasi secara langsung satu sama lain.
Disamping itu, di negara berkembang peran media massa masih relatif terbatas dibandingkan dengan negara maju :
Anggota masyarakat yang terjangkau media massa masih relatif sedikit dibandingkan jumlah penduduknya.
Isi media massa belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat.
Masih relatif rendahnya kepercayaan masyarakat pada media massa, mereka cenderung lebih percaya pada sumber-sumber informasi tatap muka. Tingkat kepercayaan atau kredibilitas penerima informasi (khalayak) terhadap sumber informasi (komunikator) adalah suatu derajat dimana sumber informasi (komunikator) dan saluran komunikasi (media) tertentu diterima sebagai sesuatu yang terpercaya dan berwenang mengenai suatu hal.
Bagi mereka yang meyakini bahwa dalam pembentukan opini publik antara media massa dan masyarakat masih terdapat perantara, didasari pada argumentasi adanya tahapan yang mengantarai saluran komunikasi massa dengan pribadi-pribadi penerima informasi, yaitu jaringan antar pribadi, karena:
Pengaruh orang lain dalam suatu keputusan yang dibuat oleh seorang individu cenderung lebih sering terjadi, bahkan lebih efektif daripada pengaruh yang datang dari media massa.
Pihak yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan yang dibuatnya adalah kalangan dekat dari orang yang bersangkutan.
Kalangan dekat tersebut cenderung untuk mengendalikan opini dan sikap bersama yang kemudian akan menjadi konsensus pada kelompok yang bersangkutan, meskipun ada himbauan adri media massa.
Pengaruh yang datang dari orang yang lebih berperhatian mengenai suatu hal terhadap orang yang perhatiannya kepada hal dimaksud lebih kecil, maka yang disebut belakangan akan membuatnya lebih mudah dipengaruhi.
Read more...
separador

Selasa, 20 Maret 2012

fungsi komunikasi sosial dalam penanganan konflik SDA "KELAPA SAWIT"

tugas lagi-tugas lagi.. ya itu resiko jdi seorang pelajar/mahasiswa :)



PERAN KOMUNIKASI SOCIAL DALAM KONFLIK PEMBANGUNAN SDA “KELAPA SAWIT” DI KALTIM

Oleh
Hasnawati 0902055139
Friscila febriyanti 0902055147
Ahmad nur kholis 0902055173
Aghapeswadi putrid 0902055186
Syarif adi putra 0902055190



ILMU KOMUNIKASI REGULAR B
FAKULTAS ILMU SOCIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN




BAB I
PENDAHULUAN

Sumber Daya Alam Di Kalimantan Timur
Dari data yang ada, pada tahun 1997 sekitar 66,63 persen ekonomi daerah ditentukan oleh perkembangan eksploitasi dan ekspor sumber daya alam.
Untuk Kalimantan Timur saja, pada tahun 1999 tercatat telah menghasilkan devisa sebesar 55,3 trilyun yang berarti mencapai 13,8 persen dari hasil pemanfaatan sumber daya alam secara nasional yang mencapai 400,036 trilyun pada tahun yang sama.
Diketahui, Kalimantan Timur sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Baik di sektor pertambangan, penggalian migas dan non migas, pariwisata dan kelautan yang membentang di pantai timur propinsi ini.
Namun ternyata kekayaan sumber daya alam di Kalimantan Timur ini juga mampu menciptakan propaganda yang akhirnya menyita perhatian masyarakat. Seperti, eksploitasi tambang minyak dan gas yang tidak terbatas yang akan mempercepat habisnya SDA tersebut, pemanfaatan sumber daya yang masih boros, banjir di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau akibat pembukaan/penebangan hutan secara besar-besaran, degradasi keaneka ragaman hayati akibat bencana alam kebakaran hutan, dan lain halnya.
Pada bahasa kali ini kami mencoba membahas mengenai pembangunan “Kelapa Sawit” yang juga begitu fenomenal di Kalimantan Timur.
Pengelolaan Kelapa Sawit
Pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Timur telah menjadi sebuah perbincangan publik. Berbagai pro-kontra terlontar menyikapi rencana pembangunan satu juta hektar perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Kaltim. Kabupaten Nunukan menjadi salah satu wilayah yang rencananya akan dibangun perkebunan kelapa sawit skala besar.
Mimpi-mimpi kesejahteraan pun dilemparkan oleh para pimpinan daerah kepada masyarakatnya. Apalagi menjelang pergantian kepala daerah, isu pembangunan kebun sawit telah menjadi salah satu janji manis yang terlontar. Kebun kelapa sawit akan dibangun dan diberikan kepada masyarakat.
Mitos Kesejahteraan Kebun Sawit
Selalu diungkapkan disaat pemerintah mempromosikan pembangunan perkebunan kelapa sawit adalah peningkatan ekonomi yang akan diperoleh dari perkebunan kelapa sawit. Dalam beberapa kajian, terungkap bahwa perkebunan kelapa sawit tidak memberikan kesejahteraan bagi kelompok masyarakat, dan hanya memberikan kucuran rupiah bagi pengusaha. Prof. Maman Sutisna, guru besar silvikultur, menyampaikan bahwa dengan mengalihkan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak memberikan nilai tambah apapun, baik dari sisi ekonomi maupun dari sisi ekologi. Lebih lanjut disampaikan, bahwa masih terdapat komoditi pertanian lainnya yang bisa memberikan nilai ekonomi yang lebih baik, semisal budidaya kemiri maupun jambu mete.
Sementara sebuah kajian dari Laila Nagib, peneliti LIPI, menyampaikan bahwa kesejahteraan petani kelapa sawit dipengaruhi oleh luas lahan, hasil produksi dan harga kelapa sawit. Keterbatasan lahan yang dimiliki, pengelolaan kebun yang tidak optimal, dan penentuan harga sepihak yang tidak menguntungkan petani, merupakan faktor penting dalam mempengaruhi kesejahteraan petani. Akibatnya petani tetap hidup miskin, terjerat hutang atau terjebak dalam permainan pemodal.
Di lain propinsi misalnya, digambarkan oleh Nordin, peneliti perkebunan besar di Kalteng, bahwa dengan mengalihkan kebun-kebun tradisional komunitas masyarakat menjadi perkebunan kelapa sawit, telah menghilangkan penghasilan Rp. 500 ribu ? Rp. 700 ribu setiap bulannya.
Pembangunan kebun plasma sawit kepada masyarakat ternyata juga diikuti dengan skema kredit dengan bunga komersil dan jangka panjang. Hal ini ternyata telah menambah beban ekonomi baru bagi masyarakat. Pupuk, bibit, pestisida, tidaklah diberikan gratis kepada masyarakat, namun menjadi sebuah paket kredit yang harus dibayarkan disaat panen. Sehingga dalam perhitungan ekonomi kebun plasma, komponen tenaga kerja menjadi dihilangkan untuk menunjukkan nilai keuntungan yang besar bagi petani plasma, yang sejatinya sangat merugikan bagi petani.

Politik Kelapa Sawit
Belakangan, pembangunan perkebunan kelapa sawit juga telah menjadi sebuah komoditas politik. Kepentingan-kepentingan politikus sangat terlihat dalam pembangunan perkebunan besar kelapa sawit. Begitu besarnya kebutuhan keuangan untuk pertarungan politik, telah menjadikan kelahiran negosiasi politik antara politikus dengan pengusaha perkebunan. Pemberian perijinan perkebunan besar, dibarengi dengan kucuran dana politik. Sehingga bukan sesuatu yang aneh lagi bila menemukan adanya janji politik berkaitan dengan pembangunan perkebunan kelapa sawit kepada masyarakat.
Belakangan, peranan aparat keamanan juga sangat terlihat dalam upaya-upaya pengamanan perkebunan besar kelapa sawit di berbagai wilayah. Polisi dan TNI terlihat sangat proaktif mengamankan perkebunan besar kelapa sawit, bukan lagi untuk mengamankan negara untuk masyarakat.

Dari paparan diatas yang dimana mengandung Pro dan Kontra masalah kelapa sawit yang sejatinya menimbulkan dampak yang serius dalam berbagai aspek bagi masyarakat setempat, olehkarnanya peran komunikasi social sangat dibutuhkan diperlukan untuk meminimalisir meruaknya konflik. Maka hal ini mengantarkan kami kepada pembahasan mengenai SDA Kelapa Sawit.


BAB II
PEMBAHASAN
Peran Komunikasi Social dalam Konflik Pembangunan SDA Kelapa Sawit di KALTIM

Dalam kehidupannya, manusia senantiasa terlibat dalam aktivitas komunikasi. Manusia mungkin akan mati, atau setidaknya sengsara manakala dikucilkan sama sekali sehingga ia tidak bisa melakukan komunikasi dengan dunia sekelilingnya. Oleh sebab itu komunikasi merupakan tindakan manusia yang lahir dengan penuh kesadaran, bahkan secara aktif manusia sengaja melahirkannya karena ada maksud atau tujuan tertentu.
Memang apabila manusia dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya seperti hewan, ia tidak akan hidup sendiri. Seekor anak ayam, walaupun tanpa induk, mampu mencari makan sendiri. Manusia tanpa manusia lainnya pasti akan mati. Manusia tidak dikaruniai Tuhan dengan alat-alat fisik yang cukup untuk hidup sendiri.
Dapat dikatakan bahwa didalam kehidupan komunikasi adalah persyaratan yang utama dalam kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang melepaskan hidupnya untuk berkomuikasi antar sesama. Dengan seperti itu, komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan manusia pada umumnya untuk membantunya berinteraksi dengan sesama, karena manusia tercipta sebagai mahluk sosial.
Karena sifat manusia yang selalu berubah-ubah hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur didalam masyarakat secara lebih mendalam.
Bahkan harus di akui untuk terciptanya keharmonisasian hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebuah kelancaran komunikasi sangat di butuhkan. Sebuah aspirasi dan kebijakan pembangunan dalam sebuah negara juga akan menemui titik terang ketika fungsi-fungsi komunikasi di jalankan dengan baik.
Komunikasi Sosial di sinilah yang mampu mencakup pembahasan pembangunan dalam sebuah negara yang di lakukan oleh pemerintah.




Komunikasi Sosial
Astrid S. Susanto mendefinisikan komunikasi sosial sebagai berikut, “ Komunikasi sosial adalah suatu kegiatan komunikasi yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu integrasi sosial.” (Susanto, 1985 : 1)
Dari pernyataan diatas , dapat diketahui bahwa tujuan komunikasi sosial yang harus dicapai yaitu integrasi sosial. Sedangkan menurut Ashadi Siregar ( 1985 : 8 ), yang menjadi tujuan komunikasi sosial adalah realitas sosial.
Integrasi sosial, menurut Astrid tersebut, lebih dikarenakan titik pangkal dari suatu komunikasi sosial adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seiya sekata tentang materi yang akan dibahas dalam kegiatan komunikasi yang akan dilangsungkan. Melalui komunikasi sosial terjadi aktualisasi dari masalah-masalah yang dibahas. Oleh karena itu secara tidak langsung, komunikasi sosial adalah sekaligus suatu proses sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup sosial seperti, stabilitas sosial, tertib sosial, penerusan nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh masyarakat, dari suatu kelompok sosial akan terjamin.
Komunikasi Sosial adalah mengisyaratkan bahwa komunikasi penting untuk membangun konsep diri, untuk kelangsungan hidup, aktualisasi diri, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketergantungan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi sosial kita bisa berkerja sama dengan anggota masyarakat (keluarga, kelompok belajar, perguruan tinggi, RT, RW, desa, kota, dan negara secara keseluruhan) untuk mencapai tujuan bersama.
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi yang memungkin individu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai pantuan untuk menafsirkan, situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya mempelajari dan menerapkan strategi-strategi adaptif untuk mengatasi situasi-situasi problematik yang ia masuki. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimanamakan, minum, berbicar sebagai manusia dan memperlakukan manusi lain secara beradap, karena cara-cara berprilaku tersebut harus dipelajari lewat pengasuhan kluarga dan pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi. Implasif adalah fungsi komunikasi sosial ini adalah fungsi komunikasi kultural. Para ilmuan sosial mengakui bahwa budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik, seperti dua sisi dari satu mata uang. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya.
Fungsi komunikasi sosial bisa terbentuk dengan adanya pembentukan dari dalam: pembentukan konsep diri, pernyataan eksistenssi diri dan untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan & memperoleh kebahagiaan.

Konflik Kelapa Sawit
konflik muncul akibat bukan keterbatasan melainkan “pertarungan” hak legal, hak kultural dan klaim atas hak kepemilikan, penguasaan dan kepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam. Di negara-negara berkembang, pengelolaan SDA juga menjadi isu pembangunan (yang dipersempit menjadi industrialisasi). Secara sederhana industrialisasi diterjemahkan sebagai serangkaian proses pengolahan komoditas dari alam (bahan baku) menjadi produk-produk yang setengah jadi dan barang jadi yang siap untuk dikonsumsi.
Berkaitan dengan konflik yang terjadi pada pembangunan kelapa sawit di KALTIM, maka Konflik muncul berkaitan dengan dampak dari pengelolaan SDA. Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. Aktivitas tersebut bisa bersifat alamiah ataupun non alamiah (by design) yang disbeut pembangunan. Seperti aktivitas pembangunan yang lain; setelah SDA dikelola maka hal itu akan menimbulkan dampak. Dampak pembangunan menjadi masalah karena perubahan yang disebabkan oleh pembangunan selalu lebih luas dari daripada sasaran pembangunan yang direncanakan (eksternalitas). Dampak bisa bersifat biofisik atau dampak sosial-ekonomi dan budaya. Dampak juga dapat bersifat positif dan negatif. Namun, seringkali pembicaraan tentang dampak mempunyai konotasi negatif. Sehingga penilaian tentang dampak tergantung pada pertimbangan nilai (value judgmnet) yang kemudian bisa berbeda dalam cara pandang.

Peran Komunikasi Social Dalam Konflik Pembangunan SDA Kelapa Sawit
Dalam konflik yang terjadi pada SDA kelapa sawit ini, komunikasi social berfungsi sebagai penengah kepada ketidakadilan pemerintah terhadap efek negative yang didapat dari pembangunan tersbut. Sebaiknya pemerintah mengadopsi dan melakukan fungsi-fungsi dari komunikasi social di pembangunan daerah.
Salah satu fungsi komunikasi social yang terkait adalah memberikan rasa nyaman, kelagsungan hidup. Komunikasi social sebagai alat atau perantara yang digunakan pemerintah utuk melakukan pembangunan yang bisa mensejahtrakan rakyat. Dari sini kita bisa memandang secara fungsi dari komunkasi social tersebut guna membangun konsep diri, untuk kelangsungan hidup, aktualisasi diri, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketergantungan, antara lain lewat komunikasi yang menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain.
Dalam proses sosial pembangunan, banyaknya kepentingan yang muncul membutuhkan peran pemerintah dalam melakukan mediasi dan menyelesaikan konflik-konflik tersebut melalui cara-cara damai. Dengan demikian komunikasi sebagai penyampaian pesan kepada khalayak sangat berhubungan erat dengan pembangunan karena pembangunan adalah sebuah kegiatan komunikasi.
Dalam kaitannya dengan sosial pembangunan, komunikasi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara kepentingan manusia sebagai individu atau organisasi dengan pihak lainnya seperti publik. Pada konteks sosialisasi hasil pembangunan SDA Kelapa Sawit misalnya diperlukan komunikasi persuasif untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan. Maksudnya, komunikasi berperan dalam penyampaian pesan-pesan pembangunan dan juga melalui komunikasi yang baik, masyarakat akan berpartisipasi aktif dalam mendukung dan memelihara hasil-hasil pembangunan tersebut.
Jadi perannya komunikasi social disini dapat disebutkan sebagai ajang memberikan wacana dan rencana yang tidak hanya menguntungkan sepihak saja, akan tetapi dengan adanya peran komunikasi sosial ini bisa memberikan rasa nyaman terhadap pihak-pihak yang terlibat baik masyarakat yang ada di sekitarnya maupun perusahaan.
Komunikasi social dalam konflik disini menjadi jalan untuk menyelesaikan dan meluruskan konflik dengan melalui penyuluhan ataupun melalui diskusi yang dimana bertujuan untuk menyelarasakan pikiran agar pihak-pihak yang merasa dirugikan mendapatkan rasa aman.
Ada empat fungsi komunikasi sosial menurut Schramm yang dikutip dan dijelaskan oleh Ashadi Siregar (1985 : 21 ), yaitu,
1. Fungsi Radar Sosial, memberikan informasi terkait dengan peristiwa yang berhubungan dengan komunitas sosialnya.
2. Fungsi manipulative atau manajemen, yaitu kegiatan komunikasi untuk mengatur atau alat untuk mengendalikan komunitasnya.
3. Fungsi Instruktif, yaitu kegiatan komunikasi untuk menyampaikan pengetahuan atau pendidikan untuk generasi baru untuk dapat hidup dalam masyarakat atau komunitasnya.
4. Fungsi Hiburan, merupakan kegiatan komunikasi yang memberikan dunia alternatif bagi anggota
Dari keempat fungsi komunikasi sosial diatas, maka poin 1 s/d 3 berfungsi dalam penanganan konflik pembangunan SDA kelapa Sawit yang dimana apabila komunikasi social itu sendiri dijalankan maka fungsinya akan dirasakan bagi pihak-pihak yang terlibat.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Harus di akui untuk terciptanya keharmonisasian hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebuah kelancaran komunikasi sangat di butuhkan. Sebuah aspirasi dan kebijakan pembangunan dalam sebuah negara juga akan menemui titik terang ketika fungsi-fungsi komunikasi di jalankan dengan baik.
Komunikasi Sosial di sinilah yang mampu mencakup pembahasan pembangunan dalam sebuah negara yang di lakukan oleh pemerintah.
Salah satu persoalan krusial yang dihadapi oleh negara-negara berkembang, termasuk Inodnesia menyangkut konflik yang berkaitan dengan sumber daya alam; baik menyangkut ketersediaan; pengelolaan maupun dampak pengelolaan sumber daya alam. Pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar di Kalimantan Timur telah menjadi sebuah perbincangan publik. Berbagai pro-kontra terlontar menyikapi rencana pembangunan satu juta hektar perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Kaltim. Kabupaten Nunukan menjadi salah satu wilayah yang rencananya akan dibangun perkebunan kelapa sawit skala besar.
Dalam proses sosial pembangunan, banyaknya kepentingan yang muncul membutuhkan peran pemerintah dalam melakukan mediasi dan menyelesaikan konflik-konflik tersebut melalui cara-cara damai. Dengan demikian komunikasi sebagai penyampaian pesan kepada khalayak sangat berhubungan erat dengan pembangunan karena pembangunan adalah sebuah kegiatan komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.teguhsantoso.com/2010/10/fungsi-fungsi-komunikasi-alasan-mengapa-kita-berkomunikasi.html#ixzz1pY1oIqxf
http://hendramatkom.student.umm.ac.id/2011/07/27/konflik-sumber-daya-alam/
http://www.macapat.web.id/pages27-macapat-dan-bentuk-komunikasi-sosial.html
http://www.bintan-s.web.id/2011/07/fungsi-komunikasi.html
Read more...
separador

anda pengunjung ke :D

Lencana Facebook

Followers