Kedua, menyambung benang. Proses ini tergolong mudah namun memerlukan kesabaran. Benang-benang yang telah dipintal disambung dengan satu demi satu dengan cara disimpul rapat hingga sepanjang 100-200 meter. Wow J
Ketiga, menggulung benang atau muntal lawai. Yaitu dalam proses ini benang-benang yang telah disambung, digulung seperti bola sebesar kepalan tangan. Dan inilah hasilnya…
keempat, yaitu di prisik ( kalau tidak salah penulisannya seperti ini )
kelima, di tenun ini adalah proses menyusun corak dengan menggunakan alat yang dinamakan tenun. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu sekitae 2 sampai dengan 3 minggu. Alat yang ada disini yaitu didatangkan langsung dari pulau sulewesi. Dalam sejarahnya, menurut para ibu-ibu yang berada disana, setiap anak perempuan yang telah mencapai usia 10 tahun wajib bisa menggunakan alat ini. wow !!
Setelah selesai, kain yang jadi dengan hasil yang indah dan cantik kemudian dirapikan.
Hasil dari pembuatan menenun ini beragam macam. Ada berupa sarung, kopiah, baju dll.
Ini adalah baju dengan warna yang sangat indah dan cantik , yang informasinya warna indah ini didapatkan dari bahan yang alami.
- Warna hitam didapat dari pembakaran dammar yang dicampur dengan cairan pakat.
- Warna merah, yaitu didapat dari kulit pohon uar, buah biji gelinggam, dan batu lado
- Warna hijau, yaitu didapat dari daun putrid malu dan daun serai.
- Warna kuning yaitu didapat dari kunyit
- Warna coklat yaitu didapat dari akar kayu oter
Hasil-hasil tenunan ini telah menyita perhatian banyak masyarakat dari dalam dan luar daerah karna kualitas dan rupanya yang baik sehingga mendapat penghargaan dari Musium rekor Indonesia.
Bukan hanya ini saja. Didalam rumah panggung ini juga disajikan bermacam perihasan manic berupa kalung, gelang, anting, cincin dll yang hanya bisa anda dapatkan di Kaltim yang berasal dari bebatuan alami dengan kualitas yang sangat baik.
Selain itu juga tersaji makanan khas Kaltim yang dimana pada dewasa ini jarang didapatkan lagi di berbagai gerai dan pasar. Dan hanya ada di tempat ini saja. Makanan-makanan ini bisa dibilang tidak beredar lagi di pasaran. serta Terdapat juga mainan tradisional yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang L
Beruntung, kedatangan kami saat itu bertepatan dengan kedatangan para mentri dari ibu kota, sehingga kami mendapatkan hiburan berupa tarian adat dari para pemuda dan pemudi dikampung itu.
Sebagai informasi, sarung yang dipakai oleh para ini adalah merupakan hasil dari tenunan masyarakat kampong baka melalui proses yang telah dipaparkan diatas tadi :D



