KONSEP DIRI DALAM PROSES HUBUNGAN ANTAR MANUSIA
Oleh:
Hasnawati
0902055139
ILMU KOMUNIKASI REGULAR C
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MULAWAMAN
2011
PENDAHULUAN
Hubungan Antar Manusia adalah Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasaan hati pada kedua belah pihak. Suksesnya seseorang dalam melaksanakan ‘hubungan antar manusia’ dikarenakan ia berkomunikasi secara etis, ramah, sopan, menghargai, dan menghormati orang lain. Pada dasarnya kita sebagai mahluk sosial pasti dalam kehidupan sehari-hari melakukan yang namanya hubungan antar manusia, karena kita tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain.
Setiap manusia dalam melakukan hubungan antar manusia pasti memiliki konsep diri, dimana konsep diri adalah merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positip. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang.
Setiap orang memiliki peran dan konsep diri serta cara mengaplikasikannya yang berbeda dalam kehidupan, entah itu dalam keluarga maupun lingkungan sosial dimana kita berada. Konsep diri itu juga bisa menjadi tolak ukur bagi diri kita untuk mengalami perubahan, baik itu positif maupun negative.
PEMBAHASAN
Proses hubungan antar manusia yang terjadi dalam keluarga saya yaitu sama halnya dengan yang terjadi pada keluarga umum lainnya. Dari pagi hingga malam terjadi komunikasi antar anggota keluarga yang terdiri dari 7 orang. Tiada hari tanpa berkumpul, dari pagi hingga menjelang malam, itu karena orang tua saya membuka lapangan pekerjaan dirumah yang membuat kami selalu berkumpul dan jarang berada diluar rumah dalam waktu yang lama. Apabila terlihat salah seorang anggota keluarga yang dalam sikap atau raut wajah terlihat ganjil dan lain dari yang biasa, maka diajak untuk melakukan komunikasi agar apabila ada yang memiliki masalah maka dapat teratasi walaupun segalanya harus dimulai dari komunikasi. Adanya keterbukaan satu sama lain, ini merupakan proses hubungan yang terjadi dalam keluarga saya. Saling menghormati dan menghargai satu sama lain, entah itu dalam hal perbedaan pendapat dan keinginan menjadi cara agar terciptanya keharmonisan dan cara untuk mengurangi atau meminilisir terjadinya percekcokan akibat perbedaan pendapat tadi. Sebisa mungkin menyelesaikan suatu masalah dengan kekerasan itu dihindari, walau terkadang acapkali terjadi kekerasan antarsaudara, namun sebisa mungkin hal itu ditutupi agar orang tua hingga orang lain tidak mengetahuinya.
Setiap orang pasti memiliki konsep diri, entah itu negative maupun positif. Begitupula dengan saya yang memiliki konsep diri yang terbentuk dari adanya lingkungan keluarga di mana saya tumbuh berkembang, di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Konsep diri terbentuk secara perlahan dan bertahap, dan berkembang sejalan dengan perkembangan usia saya. Salah satunya yaitu melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain serta melalui imajinasi saya tentang respon yang diberikan oleh orang lain terhadap saya. Mengaplikasikan konsep diri dalam kehidupan sehari-hari yaitu pertama-tama dengan menghargai diri sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif. Selanjutnya dengan bersikap obyektif dalam mengenal diri sendiri, yaitu tidak mengabaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Saya melihat talenta, bakat dan potensi diri serta mencari cara dan kesempatan untuk mengembangkannya.
Terlahir sebagai anak ke dua dari tiga bersaudara dan memiliki sifat yang sedikit keras, membuat saya cukup mudah untuk mendapatkan apa yang saya inginkan dalam lingkungan keluarga saya. Terkadang anggota keluarga saya merasa malas untuk melihat saya marah-marah apabila keinginan saya, walaupun itu sepele tidak dipenuhi. Tercatatat sebagai mahasiswa Universitas Mulawarman, di jurusan ilmu komunikasi angkatan 2009, mengantarkan saya sebagai salah satu harapan yang bisa dibanggakan dalam keluarga saya. Saya memiliki peran yang tidak begitu penting dalam keluarga saya, itu karena mungkin tidak banyak hal yang bisa saya lakukan kecuali membantu apapun itu yang bisa saya lakukan apabila ada penyelenggaraan acara keluarga. Selain itu juga saya diharapkan oleh kedua orang tua saya untuk dapat membimbing adik saya dalam hal pendidikan dan dalam hal bersikap, walaupun menurut saya itu bukan keahlian saya karena saya sendiri terkadang masih merasa sering memberikan contoh yang negative dalam menyelesaikan masalah dikarenakan masih belum pandai untuk mengontrol emosi. Begitupula halnya di dalam lingkungan tempat saya tinggal, saya tidak memiliki peran yang begitu penting. Saya hanya bisa sedikit membantu para masyarakat yang sedang melakukan kegiatan, entah itu kerja bakti ataupun adanya perlombaan dengan cara saya sendiri yaitu seperti menyediakan makanan dan ikut menjadi juri apabila ada acara tujuhbelasan, dan menjadi saksi saat adanya kegiatan pemilu. Dalam lingkungan kampus dimana saya berkuliah, saya berperan sebagai mahasiswa yang cukup aktif dalam kegiatan keorganisasian seperti LDK Fisip. Saya menyukai dan sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang berbau dan mengarah ke dakwah. Dan semua ini membuat saya merasa nyaman dengan diri saya yang sekarang.
Lain dulu lain pula dengan sekarang, dulu saya bisa disebut sebagai anak yang penurut dan sabar terhadap orang tua. Namun adanya rasa beda yang saya rasakan terhadap sikap dan perlakuan orang tua saya kepada kedua saudara saya membuat saya merasa mengalami sedikit perubahan dalam bersikap. Entah apa alasannya perasaan ini muncul tiba-tiba. Saya mulai merasa jenuh dan bersikap sedikit keras bahkan gampang emosian. Apapun yang saya inginkan harus dipenuhi, dan apabila orang tua saya tidak memenuhinya maka hal yang saya lakukan adalah berdiam diri dan marah-marah tidak jelas. Mungkin ini membuat orang tua saya malas untuk melihatnya, dan sebab itu mereka mengabulkannya. Terkadang perubahan ini saya nikmati karena sering pula menguntungkan bagi saya, tidak halnya dengan dulu yang hanya bisa diam dan menangis tanpa menghasilkan apa-apa. Hal ini saya ungkapkan kepada kedua orang tua saya, dan syukurnya mereka mengerti dan sedikit mengubah sikap mereka. Terkadang karna sudah terbiasa, sikap saya terbawa ke lingkungan dimana saya bergaul. Dan nyatanya saja pasti ada yang menerima dan kebanyakan yang tidak menerima dengan baik sikap saya, dan ini membuat saya berfikir bahwa tidak ada orang diluar sana yang bisa menerima saya seperti ini selain orang tua saya. Ini juga mengantarkan saya kepada kesimpulan bahwa tiada orang yang mampu menerima kita dalam keadaan buruk sekalipun kecuali orang tua kita. Apapun sikap dan tingkah kita hanya orang tua kitalah yang mampu menerimanya dan tetap menyayangi kita sepanjang masa. Hal inilah yang dapat menjadi tolak ukur dalam hidup saya untuk mengalami perubahan, walaupun seperti terlihat kearah perubahan yang negative.
Senin, 17 Januari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



2 komentar:
thx... bmanfaat bgt buat tugas saya///
hehehe
@ hm,,,, iya sama-sama
Posting Komentar